Minggu, 06 Januari 2008

PaHe: Anugerah Bisa Jadi Musibah - Kompas, Jumat, 17 Januari 2003

ini ceritanya tulisanku jaman dulu waktu jadi volunteer di Youth Center. Lumayan bisa nongol di Kompas.
Biar udah lama, tapi kayaknya isinya masih valid buat jaman sekarang.
Buat nostalgia nih...

PaHe: Anugerah Bisa Jadi Musibah

REMAJA identik dengan pacaran. Menjelang malam minggu, topik pembicaraan hangat ya soal dating. Kenapa sih kita identik dengan pacaran?

Kita-kita disebut remaja kalau sudah masuk masa puber. Masa puber itu ditandai dengan berkembangnya tanda seksual primer dan sekunder pada diri kita. Para gadis kecil disebut gadis remaja kalau sudah menarche atau dapat haid yang perta ma kali, payudara mulai tumbuh, badan jadi mulai berlekuk-lekuk, kulit jadi halus, juga tumbuh rambut di ketiak dan daerah sekitar alat kelamin. Yang cowok disebut remaja kalau sudah mengalami mimpi basah (bukan mimpi kehujanan lho ya) yaitu mimpi yang mengakibatkan keluarnya sperma tanpa disadari. Selain mimpi basah, para cowok juga mengalami perubahan fisik, yaitu berubah suaranya, tumbuh rambut di sekitar alat kelamin dan ketiak, tumbuh kumis, dan dada mulai membidang. Perubahan itu semua dipengaruhi hormon yang sudah bekerja. Hormon yang berkembang dalam tubuh cewek adalah progesteron dan estrogen, sedangkan yang ada dalam tubuh cowok adalah hormon testosteron.

Enggak cuma fisik aja yang berubah pada remaja tetapi juga cara berpikir juga mulai berkembang, mulai mencari jati diri dan cenderung labil emosinya. Teman-teman sebaya mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan kita, karena itulah kita lebih milih untuk gaul sama teman sebaya daripada diam di rumah bareng ortu.

Pada masa kita sekarang, dorongan seksual sudah muncul akibat dari bekerjanya hormon-hormon yang tadi sudah disebutkan. Karena sudah ada dorongan seksual maka muncul ketertarikan terhadap lawan jenis. Yang cewek jadi suka ngerumpiin cowok-cowok cakep dan saingan abis untuk ngecengin cowok paling top di sekolah, sedang yang cowok-cowok agresif buat ngedapetin cewek yang paling seksi, dan yang nekat "nembak" dan berhasil, sukses pacaran deh.

Banyak alasan remaja berpacaran. Ada yang bilang kalau tidak pacaran berarti tidak gaul dan ketinggalan zaman. Ada juga yang bilang pacaran karena ikutan tren. Ada lagi yang pacaran karena teman. Pacaran yang model begini biasanya dianut karena teman-temannya sudah punya pacar. Sering muncul pertanyaan seperti ini, "Ngapain aja sih kalau pacaran?" Remaja yang lagi punya dorongan seksual tegangan tinggi ini biasanya ada yang melakukan aktivitas seksual dan tidak sadar bahwa itu semua adalah awal dari PaHe. PaHe adalah singkatan dari Pacaran Heboh. Bahaya enggak sih gaya pacaran yang seperti itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, yuk kita lihat apa yang bakal terjadi kalau ber-PaHe-ria:

1. Berisiko tertular PMS

PMS itu singkatan dari Penyakit Menular Seksual seperti Kencing Nanah (GO), Siphilis, Kutil Kelamin, Hepatitis, bahkan HIV/AIDS. PMS ini mungkin terjadi kalau ternyata pacar kita suka gonta-ganti pasangan, terutama yang sering melakukan hubungan seksual dengan orang yang berisiko tinggi tanpa menggunakan pengaman. Buat yang cowok, PMS ini mudah diketahui karena alat kelaminnya berada di luar sehingga langsung dapat diobati. Sedangkan buat yang cewek, PMS baru ketahuan kalau sudah parah karena organ reproduksinya berada di dalam jadi seringkali terlambat untuk diobati. Risiko dari PMS ini salah satunya adalah menyebabkan kemandulan.

2. KTD (Kehamilan yang tidak Diinginkan)

Kalau biasanya kehamilan adalah suatu anugerah, tetapi kehamilan yang satu ini adalah musibah. Gaya Pacaran Heboh punya risiko besar atas terjadinya kehamilan. Kita seringkali tidak mengetahui bahwa kegiatan petting juga mempunyai risiko hamil, walaupun tidak sebesar risiko intercourse atau HUS (Hubungan Seksual). Sperma yang keluar dari penis saat terjadinya ejakulasi bisa saja masuk ke liang vagina dan berenang ke rahim sehingga membuahi ovum dan terjadilah kehamilan. Mitos bahwa melakukan hubungan seksual satu kali tidak akan menyebabkan kehamilan juga ikut berperan dalam terjadinya Kehamilan Tidak Diinginkan ini.

3. Pernikahan Dini

Itu kan judul sinetron! Eits...yang satu ini bukan judul sinetron, tetapi risiko lain dari PaHe. Biar adik bayi dalam kandungan lahir berayah, so nikah saja. Tetapi apakah menikah berarti menyelesaikan masalah? Kita yang emosinya masih labil, sebetulnya belum siap secara psikologis untuk menjadi ortu. Bayangkan, tiap malam mesti bangun kalau adik bayi ngompol atau lapar minta susu, belum lagi kalau si kecil sakit. Bayi juga nuntut perhatian ekstra lho, padahal kita juga masih butuh diperhatikan. Terus, sekolahnya gimana kalau tiap hari harus mengasuh bayi dari pagi sampai malam. Jadwal jalan bareng sambil ngeceng dan cuci mata bareng sohib di mal juga harus dilupakan, kan?

4. Aborsi

Nah, kalau tidak nikah, pengin nerusin sekolah, dan jaim atawa jaga imej sudah pasti penginnya aborsi biar enggak malu-maluin ortu juga. Apa benar aborsi jalan keluar terbaik? Terpikir enggak kalau aborsi itu bisa menyebabkan infeksi kalau peralatannya enggak steril, menyebabkan kanker rahim juga kalau kuretasenya tidak bersih, kemandulan juga bisa terjadi karena aborsi dan yang paling parah bisa menyebabkan kematian kalau tidak dilakukan secara benar. Secara kejiwaan, aborsi bisa menimbulkan depresi berat dan rasa bersalah yang berat. Oke, sudah lihat risikonya kan? So, masih pengen PaHe?

Terus gimana dong pacaran yang sehat? Begini nih tips pacaran yang sehat:

1. Beraktivitas yang positif

Seru juga lho kalau pacaran sambil kursus keterampilan yang bisa menunjang prestasi. Dijamin bakal semangat kursusnya! Kalau tidak ingin gabung kursus bisa juga cari aktivitas bareng pacar. Olahraga bareng boleh dicoba tuh! Lari keliling Senayan lima kali bakalan enggak capek. Pacaran iya, sehat juga iya.

2. Hindari tempat sepi

Kata Nenek, berduaan itu bisa bahaya. Apalagi tempatnya agak gelap, wah bisa bahaya tuh. So, paling enak kalau pacaran sambil gaul sama temen-temen. Selain menghindar dari PaHe, kita juga enggak bakal dicuekin sama teman-teman karena selalu berduaan.

3. "Say No to Free Sex!"

Bukan cuma drugs yang harus di-SAY NO, free sex juga. Kalau pacar kita melakukan sesuatu yang tidak kita suka, apalagi menjurus ke aktivitas seksual, maka kita harus berani bilang tidak. Jangan takut kalau diancam putus, kan kita jadi tahu doi bukan pacar yang baik. Kalau kita mengalami paksaan atau bahkan kekerasan, jangan ragu untuk cerita sama orang yang bisa kita percaya untuk minta bantuannya. Telepon saja pusat layanan remaja di kota kita.

Oke, guys, kayaknya sudah cukup lengkap nih infonya. Jangan ragu-ragu deh jadi remaja yang bertanggung jawab! Dan, selamat berpacaran yang sehat ya!

IKA KHARISMASARI dan YAHYA MASHUM PKBI Jawa Tengah dan PKBI Pusat

PS: Sorry ye kalo gambarnya gak nyambung,hehehe

10 komentar:

eddy JP mengatakan...

daku udah pernah baca kayanya dulu ya, cuman nggak tau itu dikau..he..he..daku justeru demen gambarnya...he..he..he..

ika kharisma mengatakan...

gimana komennya, mbah. masih valid gak tuh kalo buat anak sekarang. itu an jaman aku muda dulu nulisya. anak-anak sekarang kan butuh tantangan yang lebih ;D

Uci MomKavin+Ija mengatakan...

sip2 dehhhh

waloo jadul masih relevan kok dg skrg..

eddy JP mengatakan...

yang ini sih Ika, sampe kapan juga tetap relevan..he..he..he..kan mulainya selalu itu tantangan dan ujiannya buat ABG :)).
Gud job Ika ..he..he..

Teh Icho mengatakan...

asiik.. tulisan lainnya mana nih..
masih valid koq.. lumayan buat adik2 dan anak2 kita buat bahan pelajaran

ika kharisma mengatakan...

pengennya nulis banyak sih, bu...
tapi masih belum ada waktunya. ntar deh kalo pas lagi ada waktu luang, aku nulis lagi.
sebenernya ada satu tulisan lagi di koran wawasan, tapi belum sempat ter-file udah ilang duluan,hehehe...

Maya Ekatrina mengatakan...

wah, valid.... masalahnya prakteknya rada susah tuh kayaknya.... tau sendiri deh yang namanya lagi mabok kepayang..... gambarnya gak nyambung tapi bagus kok.... xixixixi.....

ika kharisma mengatakan...

hehehe... itulah yang jadi masalah... tapi sebenarnya bisa diatasi dengan membekali diri dengan pengetahuan yang cukup mengenai reproduksi juga sih... percaya gak percaya, menurut survey yang pernah kami lakukan, banyak HUS yang dilakukan pasangan muda ini di rumah, bukan di hotel, bukan di kos (oya ini survey untuk mahasiswa-mahasiswi di semarang sebanyak 1000 orang, kalo gak salah, tahunnya lupa soalnya udah lama juga...)
kalo kita udah tau pengetahuannya, tau resikonya, insya Allah kemampuan untuk ngerem juga lebih besar. Ini kalo dari sisi psikologisnya sih.
Yang jelas kita harus menekankan bahwa semua tindakan yang dilakukan pasti ada resikonya, so, be responsible aja deh :D

Maya Ekatrina mengatakan...

jadi intinya, make sure mendidik anak jadi anak yang bertanggungjawab....hehehehe....ok d...mengerti, bu.....:)

ika kharisma mengatakan...

betul sekali, mbak maya...
karena anak kita kan gak selamanya jadi anak yang bisa kita peluk dan kita pegang terus buntutnya (lho...emang kucing,punya buntut,hehehehe) walopun kita pengennya begitu...
kalo udah belajar tanggung jawab, kita kan lebih mudah mengarahkannya, hehehehe