Tampilkan postingan dengan label itsallaboutme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label itsallaboutme. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juli 2011

Stranger

you are a stranger for me
though we were in the same way

you are a stranger for me
though we shared our dream together

you are a stranger for me

but i know

you are always there

watching me

secure me

in your own way

Kamis, 21 Juli 2011

Nyasar Euy :D

Hehehehehehehe...
Baru aja kejadiannya nih...
Tadi saya buru-buru ngejar lift karena udah telat masuk kantor :D
Begitu lift buka, saya langsung masuk dan pencet nomor lantai.
Tapi pas pintu mau nutup, ada ibu-ibu yang juga lari mau naik lift, akhirnya saya tahan dulu lift sebentar.

Trus,
Lift jalan tuh... lantai 1, lantai 2, dst.... sampe bunyi Ting...
Saya lirik nomor lantainya...ah masih lantai 5...
Gak lama pintu lift kebuka
Saya langsung pencet tombol tutup...

Lift jalan terus..
Saya masih bengong dengerin Bon Jovi lewat earphone

....

Saya mulai penasaran...
Kok ga buka-buka lagi pintu lift ini...
Saya lirik lagi angka lantai di atas pintu lift

Doeeeeeeeeeeeng!
Lantai 11, sodareee-sodareeeeee....
Laaaaaaah...
What happen aya' naon..
Kenapa dia ga brenti di lantaiku?

Si Ibu senyam-senyum liat saya panik
Lalu dengan santai bilang...
"Tadi udah lantai 8, mbak. Tapi mbak tutup pintunya. Bunyinya emang di lantai 5 tadi..."

Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah...


Sambil senyum-senyum keki dan nahan malu...
Akhirnya saya cuma bisa bilang...
"hehehe...iya nih, ternyata harus nganter Ibu dulu... saya nanti turun lagi..."

Hahahahahahahahahahahahahhaahahahaha...
Ikaaaa... Ikaaaa....


*gambar dari mbah google*

Senin, 11 Oktober 2010

Mungkinkah Tanpa Pelicin?

Akhir-akhir ini akrab banget sama yang namanya pelicin...
Berawal dari melaksanakan tugas di tempat yang baru, dimana aku harus turun ngurus dokumen perusahaan dan harus ke sebuah instansi pemerintah.
Di sana diketemukan dengan orang pemerintah yang biasa mengurus hal seperti ini
Di kantornya ada prosedur yang tertulis
tapi, in the name of fastness or so on, ada harga yang harus dibayar untuk tidak melalui berbagai macam persyaratan itu.
Dan, walaupun persyaratan yang dibawa sudah lengkap tapi gak mau nunggu lama supaya semua beres, sejumlah uang hasil tawar-menawar pun berpindah tangan kepada pegawai pemerintah itu.
Miris, but... That's the reality...

Lagi-lagi masih soal pekerjaan di kantor.
Masih harus berurusan dengan instansi pemerintah yang berbeda dengan yang diceritakan di atas.
Diinstansi ini, sistemnya sudah mulai sempurna.
Hubungan antara uang dengan manusianya  sudah diminimalisir dengan langsung menggunakan pembayaran di bank.
Tapi, sesudahnya, masih tetap ada orang yang mencari celah untuk mencari tambahan.
Dan buat orang yang gak tau, mudah sekali untuk membayar sejumlah uang dengan harapan bisa menambah kecepatan proses tersebut.
Padahal, kecepatan yang ditambah gak banyak-banyak amat.
Mungkin kalo ada perkara, pelicin baru berperan besar.
Kali ini, saya harus melanjutkan pekerjaan orang sebelum saya, jadi mau gak mau, saya harus membiarkan perpindahan pelicin itu ke tangan orang yang mendapatkan "celah" itu untuk sesuatu yang tidak terlalu berpengaruh.
Yaaaah, namanya juga pelicin... emang dia licin banget :D *gak nyambung dot com*

Terakhir tentang pelicin...
Bulan-bulan kemarin kan lagi rame-ramenya bukaan lowongan kerja di instansi pemerintah
Dan rame pula tawaran ke aku untuk masuk jadi pegawainya
Harganya bervariasi, mulai dari 80juta - 25juta
Dibayar setelah masuk

Duuuuuuh....
Ada gak sih yang gak perlu pake beginian kalo urusan sama pemerintah?
Kapan bangsa bisa majuuuu...
Dan sampe kapan saya bisa bertahan dengan idealisme saya ya?
Karena, atas nama desakan kebutuhan, saya mulai tergoda jugaaaaa

 

Minggu, 13 Desember 2009

Best Shoot from My Favorite Photographer




Ini diambil waktu saya mengadakan pelatihan kader untuk kesehatan reproduksi di Ciawi.
Seorang project coordinator saya yang berasal dari Aceh mengambil foto saya secara candid
These are my favorite :)
Fotografernya juga pose sama saya tuh :)
Enjoy...

Jumat, 31 Juli 2009

Bila Kontrak Berakhir...Part II

Melanjutkan tulisan saya dengan judul yang sama...

Ya, malam itu saya gelisah sekali
Saya merasa seperti akan kehilangan sesuatu...
Rasa yang aneh, padahal di malam menjelang Ayah gak ada, saya gak punya feeling apa-apa...
Entah kenapa malam itu saya cemas, bahkan cenderung takut...

Memang saya juga sedang menanti kabar dari seseorang di seberang pulau yang katanya sedang sakit...
Lama tak ada kabarnya membuat kecemasan saya bertambah...
Aneh, saya tak terlalu mengenalnya tapi kabar sakitnya yang tak jelas membuat saya kalut...

Mungkin saya masih punya trauma dengan kehilangan...
Yang membuat saya sensitif tentang hal ini
Seperti saat saya mendengar kematian Aulia...
Saya terpukul...
Saya tak mengenalnya dengan baik, tapi membayangkan kepedihan orang tuanya, membuat luka di hati saya terbuka kembali...
Luka yang belum sembuh ketika Ayah berpulang ke rumah Allah..
Saya harus akui itu....

Well, sekarang saya hanya bisa berharap semoga dengan berjalannya waktu, kepedihan itu akan terobati
Saya bisa menghadapi fase kehilangan lagi
Karena dalam hidup, cuma satu yang pasti, yaitu mati...

Bila kontrak hidup kita berakhir, tak akan ada sesuatu pun yang bisa diperbuat untuk mencegahnya...
Bila kontrak hidup kita berakhir, kita tak kan mampu melawan takdir

"Segala sesuatu adalah milik-Nya dan semua akan kembali kepada-Nya"

Buat Aulia: selamat jalan, ananda tercinta... itu adalah tempat terbaik untukmu...

Oya, akhirnya saya dapat kabar... Dia sudah membaik... Lega mendengarnya...

Rabu, 15 April 2009

Menjalani Pilihan...

Pagi ini,
Saya berangkat lebih terlambat dari hari sebelumnya
Saya agak panik karena terlambatnya lumayan banyak
Dan macetnya jalanan sudah mulai menggila

Seperti biasanya, saya yang nebeng mobil papa, selalu turun di Pancoran
kemudian meneruskan perjalanan ke Gatot Subroto sendirian
Banyak kendaraan yang bisa saya pilih
Mulai dari bis, metromini, sampai ojek.

Seperti yang saya sudah ceritakan di sini
Saya mulai gemar naik ojek dan kali ini saya benar-benar mempertimbangkan untuk naik ojek karena diburu waktu.
Dan hari ini, dari mobil, saya mencari motor ojek langganan saya
Walaupun agak ragu, saya berniat untuk naik ojek
Padahal ada godaan juga untuk naik bis 46

Begitu turun dari mobil papa,
Saya langsung disambut oleh bis 46 yang kosong itu
Saya mulai menimbang untuk naik, tapi saya ingat, saya sudah berniat naik ojek
So, saya tetap ke tempat ojek itu dan menemukan bahwa tukang ojek langganan saya tidak di sana.
It means, saya harus menerangkan ke tukang ojek, untuk ke kantor saya harus lewat mana. Tugas yang sulit buat saya, karena saya agak disorder masalah arah, heheheeh *sambil lirik-lirik arie*
Saya juga masih belum tahu gimana dia jalanin motornya karena saya gampang stres dan was-was, jadi saya gak bisa menikmati perjalanan itu.

Pada akhirnya, saya pun tetap memilih naik ojek dan mengawali perjalanan ojek saya dengan deg-degan dan was-was...
Saya mulai mengutuki diri saya, kenapa gak naik bis aja,secara bisnya udah jauh di depan, while si ojek masih stuck. Rasanya nih ojek jadi lama banget...

Lama berhenti macet di antara Pancoran - Kuningan, saya jadi merenung...
Mungkin saya tidak perlu merutuki si ojek ini
Sejak awal saya sudah memilih untuk naik ojek dengan segala resikonya
Intuisi saya sudah bilang, mungkin tukang ojeknya bukan yang biasanya
Tapi tetap saja saya memilih naik ojek
Intinya...saya sudah memilih...dan saat intuisi saya bilang sesuatu, saya tetap memilih naik ojek
Dan seharusnya, semua pilihan pasti tanggung renteng dengan resikonya
Begitu saya memilih, harusnya saya pun sudah siap atas semua resiko dari pilihan saya
Tapi, alih-alih menerima, saya malah berkeluh kesah, menyalahkan faktor lain yang membuat saya susah dan tidak nyaman.
Padahal, susahnya itu kan saya sendiri yang bikin,hehehe...
Seharusnya terima aja tuh jalanan macet..toh bukan karena ojeknya
Akui aja si tukang ojek ini pinter juga bawa motornya, sehingga walaupun badan saya gede kayak gini, dia nyaman aja bawa motornya.
So, no need to worry about anything
Yang membuat saya tidak nyaman dengan perjalanan ini adalah saya sendiri kaaan

Well...
Bicara tentang pilihan ini membuat saya merenung lagi...
It's not about the ojek things that I wanna talk about
Tapi, bahwa begitu banyak pilihan dalam hidup kita yang harus kita buat

Pilihan itu kadang diikuti dengan risiko yang terlihat jelas, tapi kadang juga tidak, sehingga kita sulit untuk memilih
Kadang juga pilihan datang dan kita menentukan pilihan kita dengan mempertimbangkan faktor dari luar diri kita
Saat terhadang oleh kesulitan, kita sering menimpakan kesalahan itu pada sesuatu di luar kita, padahal hal itu membuat kita lebih sulit menjalani apa yang kita pilih dan sulit menemukan jalan keluarnya...while the answer is in ourselves.

You have no one to choose the way you live but yourself. Once you choose it, you have to live with it. Even the reasons that make you decide dont come from you.

Well...
Kembali ke perjalanan saya dengan ojek...
Saya akhirnya tiba di kantor dengan selamat
Plus dapat ucapan terima kasih yang tulus dari Pak Ojek karena sudah menunjukkan jalan tikus yang baru buat dia
Kelak jalan itu bisa menghindarkan dia dari kemacetan dan bisa kembali ke posnya dengan cepat dan bisa mengangkut penumpang lain untuk nafkahnya

Dan saya pun mendapat pelajaran pagi ini...
Untuk tidak takut memilih...karena pada setiap pilihan, ada jawaban yang indah
Selama kita menerima dan berdamai dengan pilihan itu...

Whatta lovely morning...
Terima kasih ya, Pak Ojek




Kamis, 05 Februari 2009

Resep Gampang Tidur...

Sekarang Bunda udah tau gimana caranya biar gampang tidur dan gak begadangan terus kayak kemaren...
Gak perlu pake obat...
Cukup niat aja mau nonton film prime time...
Contohnya...
Bunda niat mau nonton Grey's Anatomy jam 9.00 malem, ternyata ketiduran...
Trus, tadi malem niat mau nonton Heroes jam 9.00 (apa jam 8 ya) malem...
Eh ketiduran juga...
Kalo pas acara tipi gak ada yang bagus, melek dah sampe begadangan...
Nasib....nasib...
Tapi gak papa deh, yang jelas tadi malam bisa tidur pulees....
Enyaaaaaaaaaaak.....

Jumat, 13 Juni 2008

Kapan Ya...?




Foto dengan judul dulu itu diambil beberapa saat setelah menikah. masih belum ada Sasha...
Foto sekarang diambil bulan lalu...
Pengen juga bisa jadi kayak 'dulu', lebih langsing dan lebih tipis pipinya
Tapi kalo manisnya sih...teuteup kayak dulu, hehehehe
PS: Kula, maap ya...potonya ditutupin, hehehehe